BIM Revit: Konstruksi Virtual di Era New Normal

Kehidupan new normal mengharuskan kita untuk menjalani aktivitas biasa dengan batasan-batasan yang harus pula diterapkan. Mulai menggunakan masker, membawa handsanitizer, hingga mengurangi kontak fisik adalah sederet pedoman dalam beraktivitas di era new normal. Tentunya, pedoman itu berlaku bagi semua kalangan termasuk para pebisnis.

Bagi Kontraktor HVAC, tatanan new normal juga mengharuskan kami untuk mengubah beberapa tatanan kebiasaan. Salah satunya adalah membuat perencanaan proyek dengan menerapkan Building Information Modelling atau BIM. Beruntungnya, persiapan peralihan ke BIM ini dilakukan jauh sebelum ada new normal. Jadi ini tentu sangat membantu.

AUTODESK REVIT 2020 (x64) | Sipilpedia

Berdasarkan pengalaman Kontraktor HVAC menerapkan BIM dalam perencanaan proyek, kami merasakan perbedaan dari metode konvensionalnya. Perbedaan itu ada di efesiensi waktu dan biaya.

Building Information Modeling (BIM) merupakan salah satu teknologi di bidang AEC (Arsitektur, Engineering dan Konstruksi) yang mampu mensimulasikan seluruh informasi di dalam proyek pembangunan ke dalam model 3 dimensi.

Sebelum BIM, kita lebih dulu familiar dengan AutoCAD, SAP, Ms.Project yang sering digunakan untuk perencanaan proyek. Penggunaan aplikasi tersebut butuh lebih banyak waktu dikarenakan antar aplikasi tidak dapat terintegrasi satu sama lain.


Hal ini berpengaruh terhadap biaya dan SDM yang dibutuhkan dalam penggunaan aplikasi untuk perencanaan proyek bila dibandingkan dengan menggunakan BIM. Karena biaya, SDM, dan waktu yang dibutuhkan akan lebih banyak.

BIM mendukung pertukaran model 3D antar disiplin ilmu yang berbeda, sehingga proses pertukaran informasi menjadi lebih cepat dan berpengaruh terhadap proses suatu konstruksi.

Revit vs SketchUp: CAD Software Compared | All3DP

Dengan menerapkan metode BIM, kami sebagai kontraktor mampu menghemat waktu pengerjaan, biaya yang dikeluarkan serta tenaga kerja yang dibutuhkan. Seperti salah satu project kami untuk salah satu apartment.

Dalam menyelesaikan project ini, tim kami terbantu untuk terhindar kesalahan saat pelaksanaan. Sebab, dengan metode BIM, kesalahan pada perencanaan dapat ditemukan di awal. Kami juga mudah berkoordinasi dengan sub-kontraktor.

Koordinasi melalui BIM dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi BIM yang terkoneksi lewat internet, di mana para stakeholder proyek mampu mengakses data perencanaan dan memberi koreksi apabila diperlukan.

Apalagi, di masa new normal ini, anjuran pemerintah untuk tetap physical distancing terus dikampanyekan. Jika terbiasa dengan metode BIM, tentu ini bukan masalah. Dengan BIM, kami bisa meminimalisir biaya mock up.

Efisiensi waktu untuk penyelesaian proyek ini juga kami rasakan. Tahapan pada penggunaan aplikasi konvensional lebih lama dibandingkan BIM. Karena pada aplikasi konvensional, antara desain, struktur dan MEP tidak dapat dilakukan bersamaan.

Sedangkan pada BIM, semua dapat dilakukan bersama sehingga mempercepat perencanaan karena tidak perlu menunggu salah satu disiplin untuk selesai terlebih dulu.

Penggunaan BIM yang kami rasakan memang sangat membantu pengerjaan proyek konstruksi. Keuntungan yang kami dapat sebagai kontraktor adalah BIM dapat mempermudah koordinasi bagi para pihak yang bersangkutan.

Hal ini tentu membantu owner meninjau perkembangan proyek dan pihak konsultan dapat menghemat biaya upah tenaga ahli dan efisiensi waktu dalam perencanaan.

Selain itu, penerapan metode BIM bagi kami juga dapat mendeteksi crash di awal sehingga dapat menghindari pekerjaan tambah.

Revit Add-Ons: Free Express Family Web3d v1.0.2

Keharusan beradaptasi dengan New Normal menjadikan virtualisasi bagian dari new itu sendiri. Mulai dari meeting, wisuda hingga berjualan, semuanya sebisa mungkin dilakukan secara virtual.

Walau sebenarnya penerapan BIM ini bukan hal baru, kondisi sekarang semakin menjadikannya populer dan sebuah keharusan di kalangan industry.

Siapa lagi yang ingin kolaborasi?

Write a Reply or Comment