Desain HVAC untuk Mengontrol Bakteri dan Virus di Ruangan : Efektif Kah?

Spesialis AC . Sistem HVAC memiliki peran penting  untuk sebuah bangunan. Selain memberi kenyamanan, sistem HVAC berperan dalam menciptakan ruangan yang sehat.

Bangunan dengan sistem HVAC yang tidak berfungsi bukan hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga membahayakan kesehatan.

Menawarkan kualitas lingkungan dalam ruangan juga merupakan hal yang  logis secara finansial bagi pemilik gedung karena kenyamanan dan kesehatan dapat meningkatkan produktivitas.

Salah satu manfaat dari sistem HVAC yang dirancang dengan baik adalah kontrol yang lebih besar terhadap organisme berbahaya seperti virus, bakteri, jamur dan tungau debu.

Karena organisme ini memiliki efek merusak pada kualitas udara dan kesehatan, pemilik bangunan harus memastikan mereka tetap terkendali.

Untuk meningkatkan IAQ alias Index Air Quality, Badan Perlindungan Lingkungan AS merekomendasikan kelembaban relatif di bawah 60%, dan idealnya antara 30% dan 50%.

Kelembaban relatif adalah persentase air di udara, sehubungan dengan jumlah maksimum yang bisa dipertahankan udara. Karena udara hangat dapat menampung lebih banyak kelembaban daripada udara dingin, 50% RH pada 90 ° F mewakili lebih banyak kelembaban daripada 50% RH pada 65 ° F.


Bagaimana Kelembaban Udara Mengurangi Infeksi Virus?

Virus-virus yang menyebabkan flu biasa dan influenza lebih mudah ketika udara kering, dan ini juga berlaku untuk coronavirus yang hingga kini masih menjadi pandemi.

Ada beberapa alasan mengapa infeksi virus lebih umum terjadi pada cuaca dingin dan kering:

  • Partikel-partikel udara tetap berada di udara lebih lama ketika kelembabannya rendah, dan ini juga berlaku untuk virus. 
  • Kelembaban rendah mengeringkan selaput lendir yang melindungi sistem pernapasan manusia, membuat infeksi virus lebih mungkin terjadi.
  • Temperatur yang dingin itu sendiri tidak mempengaruhi penyebaran virus. Namun, udara dingin menahan sedikit kelembaban, menyebabkan dua efek yang dijelaskan di atas.
  • Orang-orang tetap di dalam rumah selama cuaca dingin, dan virus menyebar dengan lebih mudah ketika orang-orang berkumpul di ruang tertutup.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mempelajari bagaimana kelembaban udara mempengaruhi infeksi virus flu . Pada kelembaban relatif 23%, 70-77% partikel virus flu tetap aktif satu jam setelah batuk di udara. Namun, pada 43% RH, hanya 14% partikel virus flu yang masih aktif setelah satu jam.

Selama musim dingin, sistem pemanas ruang dapat membuat udara dalam ruangan lebih kering daripada udara di luar ruangan. Hal ini membuat penyebaran virus lebih mungkin terjadi.

Pemilik gedung harus memastikan sistem HVAC mereka tidak hanya mengontrol suhu, tetapi juga kelembaban. Langkah-langkah pelembab tambahan mungkin diperlukan dalam aplikasi sensitif seperti perawatan kesehatan dan rumah pensiun.

Tingkat kelembaban udara yang meningkat membantu mencegah penyebaran virus. Namun, terlalu banyak kelembaban juga bukan hal yang baik, karena ada efek negatif lainnya pada Index Air Quality.


Kelembaban Tinggi: Efek Negatif pada Kualitas dan Kesehatan Udara Dalam Ruangan

Udara kering menyebabkan partikel tetap berada di udara lebih lama. Hal ini meningkatkan kemungkinan infeksi virus. Namun, udara lembab turut merangsang tumbuhnya bakteri, jamur, dan debu.

Organisme ini memiliki dampak negatif pada kualitas udara dalam ruangan dan kesehatan penghuni:

  • Banyak spesies bakteri adalah patogen seperti virus yang bisa menyebabkan masalah kesehatan.
  • Jamur merusak furnitur dan beberapa bahan konstruksi, dan sporanya menyebabkan reaksi alergi. Pasien asma dapat menderita kambuh ketika mereka menghirup spora jamur.
  • Tungau debu juga menyebabkan reaksi alergi pada umumnya, dan kambuh pada pasien asma.

Badan Perlindungan Lingkungan AS merekomendasikan kelembaban relatif 30-50%, sedangkan ASHRAE merekomendasikan 30-60% RH. Kisaran menengah ini telah ditentukan karena udara kering dan udara lembab keduanya memiliki efek yang merugikan.

Namun secara umum, penyedot debu dengan filter HEPA direkomendasikan, karena mampu menangkap 99,97% partikel dengan diameter 0,3 mikron.

Mengontrol Kelembaban Udara Dalam Ruangan Secara Efektif

Sistem ventilasi pemulihan energi (ERV) dengan roda entalpi dapat bertukar kelembaban antara pasokan udara luar dan udara buang. Jenis sistem ERV ini dapat menambah atau mengurangi kelembaban sesuai kebutuhan:

  • Ketika udara luar yang disuplai ke gedung lembab, udara buangan dapat menghilangkan sebagian kelembaban itu melalui sistem ERV.
  • Yang sebaliknya berlaku ketika udara luar kering, karena sistem ERV memulihkan kelembaban dari udara buangan.

Pemanasan ruang dan sistem pendingin udara dikaitkan dengan kenyamanan termal, tetapi keduanya juga dapat memberikan kontrol atas kelembaban udara. Pelembab dan penurun lembab tambahan memberikan kontrol lebih besar, tetapi juga mengonsumsi banyak energi.

Pemanaan ruang dan sistem pendingin hanya direkomendasikan bila sistem HVAC tidak dapat mencapai kisaran kelembaban yang disesuaikan.

 

Write a Reply or Comment