Indonesia Positif Terinfeksi Corona, Wajarkah Harga Masker Naik Semena-mena?

Konsultan AC Rumah Sakit - Sejak mewabahnya virus Corona di pembuka awal tahun 2020 lalu, muncul perdebatan apakah Indonesia benar-benar aman dari virus yang mengganggu saluran pernapasan ini. Namun, kabar positifnya dua orang di Indonesia yang terinfeksi Virus Corona menjadi penutup perdebatan tersebut.

Tanggal 3 Maret 2020, beberapa akun penyedia informasi di Instagram kompak menginformasikan bahwa ada dua orang di Indonesia yang positif terinfeksi Virus Corona. Dengan “Breaking News” sebagai narasi pembuka, akun-akun tersebut menginformasikan bahwa seorang Ibu berusia 64 tahun dan anak perempuannya berusia 31 tahun positif terinfeksi virus ini setelah sebelumnya berinteraksi dengan warga Jepang yang juga positif terinfeksi.

Berita tersebut kemudian menjadi semacam sumber kepanikan sendiri di masyarakat. Mereka takut kondisinya nanti akan seperti di Kota Wuhan, mati dan terisolasi. Menurut pantauan tim Kontraktor HVAC, kepanikan itu berimbas pada pemborongan komoditas. Masyarakat mendatangi supermarket dan memborong semua kebutuhan sehari-hari. Berupaya semaksimal mungkin untuk mempersiapkan jika yang mereka khawatirkan benar-benar terjadi.

Selain kebutuhan sehari-hari, komoditas yang turut diborong adalah masker. Meski WHO dan institusi kesehatan resmi lainnya telah tegas menyatakan bahwa orang yang sehat tidak perlu menggunakan masker, kini masker tetap saja menjadi produk kesehatan yang laris di pasaran. Masyarakat tetap memborong masker hingga selama beberapa waktu belakangan, stoknya ludes dan mengalami kelangkaan, baik di apotek maupun swalayan.

Kontraktor HVAC sebagai Konsultan AC Rumah Sakit bisa mengerti kepanikan yang dialami masyarakat kebanyakan. Namun kelangkaan masker ini tidak cukup pantas untuk dianggap sebagai suatu kewajaran. Dikhawatirkan, momen ini akan memancing kepanikan yang baru dan sengaja dimanfaatkan oleh segelintir oknum.

Dan benar saja. Setelah mengikuti perkembangan berita terkait virus corona ini, banyak orang memborong untuk menimbunnya. Kemudian menjualnya dengan harga yang sangat tinggi. Para oknum sepertinya paham, orang-orang akan tetap membeli dengan harga yang melejit karena stoknya yang sedikit.

Seperti yang terjadi di pasar-pasar DKI Jakarta. Harga sekotak masker bedah di sana menembus angka hingga Rp300.000. Sedangkan menurut berita di tirto id, masker N95 dengan kualitas filter yang dapat menagkal partikel berukuran 0.3 mikron, dibanderol seharga Rp1.500.000 per dus berisi 20 buah. Padahal sebelumnya hanya Rp400.000

Keadaan ini tentu dianggap tidak wajar. Oleh karenanya, melalui Portal Hukum Online, Badan Perlindungan Konsumen Nasional mengatakan bahwa penimbun masker bisa dijerat dengan pasal 107 UU No. 7 Tahun 2014 tentang perdagangan. Selain itu, penimbun masker masuk dalam kejahatan pidana. Pelaku bisa dijerat dengan pasal 5 UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Penggunaan masker sebagai pencegahan virus corona memang direkomendasikan oleh WHO dan institusi kesehatan resmi lainnya. Namun yang perlu dicatat adalah penggunaannya untuk orang yang sedang sakit saja. Bagi yang sehat, tidak ada bukti bahwa mengenakan masker akan melindungi orang dari Corona. Malah, jika cara mengenakannya salah, resiko terinfeksi makin tinggi karena akan lebih sering menyentuh wajah. Penggunaan masker yang tidak benar meningkatkan resiko penularan karena virus dapat menempel pada bagian luar masker. Terlebih, orang-orang cenderung menyentuh wajahnya saat memperbaiki letak maskernya.

Sebenarnya ada banyak cara untuk mencegah penularan virus corona ini. Rekomendasi dari WHO dan Kemenkes yang sudah dirangkum oleh Kontraktor HVAC untuk pencegahan virus ini adalah selalu mencuci tangan dengan sabun, gunakan masker bila batuk, makan makanan bergizi seimbang, jangan terlalu sering menyentuh wajah, menghindari kerumunan, minum air putih 8 gelas sehari, rajin olahraga dan menjaga kebersihan lingkungan.

Sebagai ahli sistem tata udara, Kontraktor HVAC merasa perlu ambil andil dalam pencegahan virus corona. Terutama dari sisi kebersihan lingkungan. Udara yang bersih berkontribusi pada lingkungan yang bersih. Menjaga kebersihan udara turut pula menjaga diri kita dari paparan virus termasuk virus corona.

Sebagaimana yang diketahui, virus corona bisa menyebar melalui partikel-partikel udara. Oleh karenanya kita dianjurkan untuk memastikan udara di sekitar kita terbebas dari allergan dan kontaminan. Banyaknya penggunaan Air Purifier untuk pemurnian udara menunjukkan bahwa masyarakat sudah paham akan kebutuhan kualitas udara untuk kesehatannya. Kontraktor HVAC pun turut senang karenanya. Namun apakah air purifier yang dipakai cukup efektif untuk melindungi kita dari novel corona virus?

Alergen yang merupakan sekumpulan senyawa asap, jamur, bakteri, serbuk sari, dan virus yang dapat merusak paru-paru dan sistem imunitas tubuh. Paparan alergan tersebut dapat ikut terbawa masuk ke dalam ruangan setelah kita bepergian dari luar.

Alergan tersebut akan berubah menjadi mikroorganisme yang nantinya tersebar lewat udara. Hingga mikrorganisme berpindah dari satu orang ke orang lain dengan menghirup udara yang sama dalam ruangan yang terkontaminasi. 

Penyebaran virus dan bakteri dalam ruangan cenderung lebih mudah jika kualitas udaranya tidak dijaga. Hal ini menyebabkan penghuni yang tinggal di ruangan tersebut rentan tertular penyakit, terutama anak kecil, lansia, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Sebagian besar virus dan bakteri memiliki ukuran yang sangat kecil dan tidak bisa terlihat dengan mata. Bahkan, besarnya tidak lebih dari 0.3 mikron. Untuk menghilangkannya, maka digunakan alat pembersih udara atau air purifier dengan HEPA Filter di dalamnya.

HEPA Filter atau High Effeciency Particulate Air, adalah teknologi penyaringan udara dengan jarring halus yang dapat menjebak parikel berukuran 0.3-0.1 mikron. HEPA Filter banyak digunakan dalam bidang biomedis sejak tahun 1940-an sebagai pencegah mikroorganisme virus di udara. Teknologi ini dapat menyaring sebanyak 99.97% partikel di udara.

Kini teknologi itu ada di Paragon Air Care. Air Care ini berfungsi bisa dengan baik untuk pencegahan corona virus sebab HEPA filter yang ada di dalamnya dipadukan dengan Ultraviolet Germicidal Irridiation (UVGI).

Paragon Air Care Testing

UVGI atau lebih familiar sebagai lampu UV merupakan teknologi dengan cahaya ultraviolet yang dapat menetralkan berbagai mikroorganisme di udara seperti kuman, bakteri dan virus.

Paragon Air Care dapat bekerja lebih efektif untuk mencegah virus corona karena dalam rancangannya menggunakan lampu UV yang diarahkan menghadap HEPA filter. Nantinya, paparan lampu UV partikel yang terperangkap dalam HEPA filter akan menghancurkan virus.

Paragon Air Care, udara bersih tanpa risih!

Siapa lagi yang ingin menjaga kesehatan keluarga?

Selain kedua fitur tersebut, Paragon Air Care juga dilengkapi Activated Carbon Filter, Nano Photo-Catalyst Filter, dan Dual Negative Ion Generator untuk memaksimalkan kinerjanya dalam memurnikan udara.

Kontraktor HVAC menyadari bahwa pencegahan virus corona harus dilakukan di banyak aspek. Tidak terkecuali melalui udara yang bisa saja menjadi sarana penyebaran virus radang pernapasan ini. Oleh karenanya, Kontraktor HVAC mengimpor Paragon Air Care langsung dari negara asalnya untuk kemudian dijual dengan harga sewajarnya.

1 unit Paragon Air Care hanya dibanderol dengan harga Rp3.999.000 dari harga awal  Rp4.200.000. 

Dengan adanya Paragon Air Care ini, semoga bisa membantu kita tetap terjaga dari berbagai virus berbahaya. Tentunya, tanpa harus mengeluarkan uang berlebih yang tidak sewajarnya.

Lihat penjelasan cara penggunaan Paragor Air Care dari eonni korea di bawah ini :

Jauhkan keluarga dari bahaya Corona Virus

Dengan Hepa Filter, Paragon Air Care mampu menangkap berbagai allergan dan polutan dalam partikel udara.


Pasang Paragon Air Care  berarti melindungi orang tersayang sejak dini

Write a Reply or Comment